POTENSI FLORA INDONESIA

A.  Keanekaragaman

Indonesia yang terletak di kawasan tropis merupakan pertemuan antara paparan Asia dan Australia, dengan luas wilayah hanya 1,3% dari luas bumi, ternyata mempunyai tingkat keberagaman kehidupan yang sangat tinggi. Untuk tumbuhan, Indonesia diperkirakan memiliki 25% dari spesies tumbuhan berbunga yang ada di dunia atau merupakan urutan negara terbesar ketujuh dengan jumlah spesies mencapai 20.000 spesies, 40% merupakan tumbuhan endemik atau asli Indonesia.  Famili tumbuhan yang memiliki anggota spesies paling banyak adalah Orchidaceae (anggrek-anggrekan) yakni mencapai 4.000 spesies. Untuk jenis tumbuhan berkayu, famili Dipterocarpacea memiliki 386 spesies, anggota famili Myrtaceae (Eugenia) dan Moraceae (Ficus) sebanyak 500 spesies dan anggota famili Ericaceae sebanyak 737 spesies, termasuk 287 spesies Rhododendrom dan 239 spesies Naccinium (Whitemore 1985 dalam Santoso 1996).

Untuk jenis paku-pakuan, Indonesia juga tercatat memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi mencapai lebih 4000 spesies tersebar hampir di seluruh wilayah nusantara.  Untuk jenis rotan, tercatat ada sekitar 332 spesies terdiri dari 204 spesies dari genera Calamus, 86 spesies dari genera Daemonorps, 25 spesies dari genera Korthalsia, 7 spesies dari genera Ceratolobus, 4 spesies dari genera Plectocomia, 4 spesies dari genera Plectocomiopsis dan 2 spesies dari genera Myrialepsis.

Selain itu banyak juga jenis-jenis keanekaragaman tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat di Indonesia. Menurut catatan WHO sekitar 20.000 spesies tumbuhan dipergunakan oleh penduduk dunia sebagai obat. Zuhud & Haryanto (1994) mencatat ada sekitar 1.260 spesies tumbuhan yang secara pasti diketahui berkhasiat obat.

Indonesia juga tercatat sebagai salah satu pusat Vavilov yaitu pusat sebaran keanekaragaman genetik tumbuhan budidaya/pertanian untuk tanaman pisang (Musa spp.) pala (Myristica fragrans), cengkeh (Syzygium aromaticum), durian (Durio spp.) dan rambutan (Nephelium spp.)

Hutan Indonesia juga diketahui memiliki keanekaragaman jenis pohon palem (Arecaceae) tertinggi di dunia, lebih dari 400 spesies (70%) pohon meranti (Dipterocarpaceae) terbesar di dunia sebagai jenis kayu tropika primadona; memiliki 122 spesies bambu dari 1.200 spesies bambu yang tumbuh di bumi. Tingginya kekayaan keanekaragaman tumbuhan tersebut juga ditunjukkan oleh kekayaan di hutan Kalimantan. Misalnya, dalam satu hektar dapat tumbuh lebih dari 150 spesies pohon yang berlainan, tercatat 3.000 spesies pohon, serta memiliki 19 dari 27 spesies durian yang terdapat di kawasan Melanesia. Indonesia juga memiliki lebih dari 350 jenis rotan dan merupakan penghasil ¾ rotan dunia.

Meskipun dari jumlah spesies Indonesia tercatat sebagai negara dengan kekayaan tumbuhan yang tinggi, namun sayang potensi sumberdaya genetik yang terkandung di dalamnya belum diketahui semuanya. Hanya sebagian kecil spesies tumbuhan yang telah diketahui informasi sumberdaya genetiknya, terutama untuk jenis-jenis yang telah dikembangkan pemanfaatannya secara komersial.

B.  Penyebaran

Ditinjau dari wilayah biogeografi, setidaknya  terdapat tujuh wilayah biogeografi utama Indonesia yang menjadi wilayah penyebaran berbagai spesies tumbuhan, yaitu Sumatra, Jawa dan Bali, Kalimantan, Sunda Kecil, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya (BAPPENAS, 1993).  Berdasarkan tingkat kekayaan relatif dan keendemikan spesies tumbuhan, maka Irian Jaya (Papua) menempati posisi paling tinggi dibandingkan dengan wilayah biogeografi lainnya, diikuti Kalimantan dan Sumatera (Tabel 1).

Tabel 1.     Perbandingan Kekayaan Spesies dan Keaslian (endemisme) Spesies Tumbuhan di Tujuh Wilayah Biogeografi Indonesia

No. Wilayah Kekayaan spesies Persentase spesies endemik
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Sumatera

Jawa

Kalimantan

Sulawesi

Sunda Kecil

Maluku

Irian Jaya (Papua)

820

630

900

520

150

380

1030

11

5

33

7

3

6

55

Sumber: FAO/MacKinnon (1981).

Berdasarkan habitatnya, penyebaran tersebut selain di kawasan budidaya sebagian besar terdapat di dalam kawasan hutan. Untuk tumbuhan obat misalnya, sekitar 42% terdapat di hutan hujan tropika dataran rendah, 18% di hutan musim, 4% di hutan pantai dan 3% di hutan mangrove. Untuk jenis paku-pakuan, tercatat penyebarannya di Sumatera sebanyak 500 spesies, Kalimantan 1.000 spesies, Jawa-Bali/NTB/NTT 500 spesies, Sulawesi 500 spesies, Kepulauan Maluku 690 spesies dan Papua 2.000 spesies. Perkiraan jumlah spesies di setiap wilayah penyebaran tersebut boleh jadi ada tumpang tindih antara satu pulau dengan lainnya, namun ada juga spesies endemik (Kato dalam Santosa 1996).

C.  Status Kelangkaan

Eksploitasi terhadap keanekaragaman hayati, penebangan liar, konversi kawasan hutan menjadi areal lain, perburuan dan perdagangan liar adalah beberapa faktor yang menyebabkan terancamnya keanekaragaman hayati.  Untuk mendorong usaha penyelamatan sumberdaya alam yang ada, dan adanya realitas meningkatnya keterancaman dan kepunahan sumberdaya hayati, maka ditetapkan adanya status kelangkaan suatu spesies.   Indonesia merupakan negara dengan tingkat keterancaman dan kepunahan spesies tumbuhan tertinggi di dunia dan merupakan hot-spot kepunahan satwa.  Tercatat sekitar 240 spesies tanaman dinyatakan langka, diantaranya banyak yang merupakan spesies budidaya.  Paling sedikit 52 spesies keluarga anggrek, 11 spesies rotan, 9 spesies bambu, 9 spesies pinang, 6 spesies durian, 4 spesies pala, dan 3 spesies mangga (Mogea et al., 2001).  Selain itu ada 44 spesies tanaman obat dikategorikan langka, seperti pulasari, kedawung, jambe, pasak bumi, gaharu, sanrego (Rifai et al., 1992; Zuhud et al., 2001) (Tabel 2).

Tabel 5.2.  Beberapa spesies tumbuhan obat yang dikategorikan langka

No. Nama Lokal/ Perdagangan Nama Ilmiah Bagian yang digunakan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

37.

38.

39.

40.

41.

42.

43.

44.

Kayu rapet

Pulasari

Pulasari

Secang

Kedawung

Mesoyi

Kemukus

Rasuk angin

Jambe

Pasak bumi

Sidowayah

Kunci pepet

Nagasari

Purwoceng

Sukmodiluwih

Sintok lekat

Bidara laut

Pulai

Kayu ules

Joholawe

Pranajiwo

Bidara upas

Patmosari

Padma

Pelir musang

Gaharu

Gaharu

Paku simpai

Kulit lawang

Temu putri

Puar tenganau

Ki lembur

Kayu pedang

Petir

Perlutan

Cetek

Ki sariawan

Hamperu bebek

Sanrego

Pule pandak

Kemuning

Tabat barito

Asem glugur

Kluwek

Parameria laevigata

Alyxia halmaherai

A. reinwardtii

Caesalpinia sappan

Parkia roxburghii

Cryptocarya massoi

Piper cubeba

Usnea misaminensis

Areca catechu

Eurycoma longifolia

Woodfordia floribunda

Kaempferia angustifolia

Mesua ferrea

Pimpinella pruatjan

Gunnera macrophylla

Cinnamomum sintoc

Strychnos ligustrina

Alstonia scholaris

Helicteres isora

Terminalia balerica

Euchresta horsfIeldii

Merremia mammosa

Rafflesia patma

R. zollingeriana

Anaxagorea javanica

Aquilaria beccariana

A. malaccensis

Cibotium barometz

Cinnamomum culilaban

Curcuma petiolata

Elettariopsis sumatrana

Kadsura scandens

Oroxylum indicum

Parkia intermedia

Scutellaria javanica

Strychnos ignatii

Symplocos odoratissima

Voacanga grandifolia

Lunasia amara

Rauvolfia serpentina

Murraya paniculata

Ficus deltoidea

Tamarindus indicus

Pangium edule

Kulit kayu

Akar

Akar

Kayu

Biji

Kulit kayu

Buah

Talus daun

Seluruh bagian

Akar

Bunga

Rimpang

Bunga

Akar

Kembang

Kulit

Kayu

Kulit

Daun

Buah

Biji

Umbi

Bunga

Bunga

Daun

Kayu

Kayu

Rimpang

Kulit

Rimpang

Daun, rimpang

Kulit

Akar, kayu

Biji

Kulit batang/daun

Biji

Daun, kulit batang

Akar

Daun, bunga

Akar

Buah

Buah

Sumber: Rifai et al. (1992), Zuhud et al. (2001)

Dari catatan lain untuk dunia flora, juga diketahui sekitar 36 spesies kayu di Indonesia terancam punah, termasuk kayu ulin di Kalimantan Selatan; sawo kecik di Jawa Timur, Bali Barat dan Sumbawa; kayu hitam di Sulawesi; kayu pandak di Jawa.  Pakis haji (Cycas rumphii) yang pernah populer sebagai tanaman hias kini sulit ditemukan di alam, demikian pula Pakis hias (Ponia sylvestris), Anggrek jawa (Phalaenopsis javanica) dan sejenis rotan (Ceratobulus glaucescens) kini hanya tinggal beberapa batang di pantai selatan Jawa Barat.  Bahkan Whitten (1994) dalam Suhirman et al.(1994) menduga bahwa tiga spesies anggrek endemik Jawa telah punah, yaitu spesies Habenaria giriensis, Plocoglottis latifolia dan Zeuxine tjiampeana.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun 1999 terdapat tidak kurang dari 58 spesies tumbuhan yang termasuk kedalam 6 famili yang dilindungi, diantarannya yaitu keluarga talas-talasan (miss. Amorphohalus titanum), palem (Ceratolobus glaucencens), anggrek (Phalaenopsis javanica), kantong semar (Nephenthes spp.), bunga patma (Rafflesia spp) dan meranti (Shorea spp.).  Daftar spesies satwa yang dilindungi dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Spesies tumbuhan yang dilindungi (Berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999)

TUMBUHAN
I. ARACEAE
1 Amorphophallus decussilvae Bunga bangkai jangkung
2 Amorphophallus titanum Bunga bangkai raksasa

II.  PALMAE

3 Borrassodendron borneensis Bindang, Budang
4 Caryota no Palem raja/Indonesia
5 Ceratolobus glaucescens Palem Jawa
6 Cystostachys lakka Pinang merah Kalimantan
7 Cystostachys ronda Pinang merah Bangka
8 Eugeissona utilis Bertan
9 Johanneste ijsmania altifrons Daun payung
10 Livistona spp. Palem kipas Sumatera (semua jenis dari genus Livistona)
11 Nenga gajah Palem Sumatera
12 Phoenix paludosa Korma rawa
13 Pigafatta filaris Manga
14 Pinanga javana Pinang Jawa
II. RAFFLESSIACEA
15 Rafflesia spp. Rafflesia, Bunga padma (semua jenis dari genus Rafflesia)
III. ORCHIDACEAE
16 Ascocentrum miniatum Anggrek kebutan
17 Coelogyne pandurata Anggrek hitan
18 Corybas fornicatus Anggrek koribas
19 Cymbidium hartinahianum Anggrek hartinah
20 Dendrobium catinecloesum Anggrek karawai
21 Dendrobium d’albertisii Anggrek albert
22 Dendrobium lasianthera Anggrek stuberi
23 Dendrobium macrophyllum Anggrek jamrud

24

Dendrobium ostrinoglossum

Anggrek karawai

25 Dendrobium phalaenopsis Anggrek larat
26 Grammatophyllum papuanum Anggrek raksasa Irian
27 Grammatophyllum speciosum Anggrek tebu
28 Macodes petola Anggrek ki aksara
29 Paphiopedilum chamberlainianum Anggrek kasut kumis
30 Paphiopedilum glaucophyllum Anggrek kasut berbulu
31 Paphiopedilum praestans Anggrek kasut pita
32 Paraphalaenopsis denevei Anggrek bulan bintang
33 Paraphalaenopsis laycockii Anggrek bulan Kaliman Tengah
34 Paraphalaenopsis serpentilingua Anggrek bulan Kaliman Barat
35 Phalaenopsis amboinensis Anggrek bulan Ambon
36 Phalaenopsis gigantea Anggrek bulan raksasa
37 Phalaenopsis sumatrana Anggrek bulan Sumatera
38 Phalaenopsis violacose Anggrek kelip
39 Renanthera matutina Anggrek jingga
40 Spathoglottis zurea Anggrek sendok
41 Vanda celebica Vanda mungil Minahasa
42 Vanda hookeriana Vanda pensil
43 Vanda pumila Vanda mini
44 Vanda sumatrana Vanda Sumatera
IV. NEPHENTACEAE
45 Nephentes spp. Kantong semar (semua jenis dari genus Nephentes)
V. DIPTEROCARPACEAE
46 Shorea stenopten Tengkawang
47 Shorea stenoptera Tengkawang
48 Shorea gysberstiana Tengkawang
49 Shorea pinanga Tengkawang
50 Shorea compressa Tengkawang
51 Shorea semiris Tengkawang
52 Shorea martiana Tengkawang
53 Shorea mexistopteryx Tengkawang
54 Shorea beccariana Tengkawang
55 Shorea micrantha Tengkawang
56 Shorea palembanica Tengkawang
57 Shorea lepidota Tengkawang
58 Shorea singkawang Tengkawang

Tags: ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.